
SURABAYA PAGI, Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum terlalu puas dengan penyelenggaraan debat capres putaran kedua, tadi malam (25/6). Namun, dibandingkan dua debat sebelumnya, anggota KPU I Gusti Putu Artha menganggap debat ketiga ini lebih baik. "Sebenarnya masih bisa klimaks lebih dari ini (debat tadi malam, red). Kita akan mainkan di debat keempat dan kelima. Puncaknya di debat kelima dan ada kejutan nanti," ujar Putu, usai Debat Capres, di Studio Metro TV, Jakarta, tadi malam.
Debat kelima, ungkapnya, akan lebih mencair dan memberikan waktu yang lebih panjang untuk berdebat pada sesi ketiga. Mengenai banyaknya iklan, Putu mengatakan, tak mengganggu substansi debat. Dikatakannya, iklan yang ditayangkan stasiun televisi merupakan kompensasi dari pengefisiensian penggunaan anggaran. KPU mengaku hanya mengeluarkan dana untuk honor moderator dan konsumsi.
"Jadi anggaran yang dikembalikan ke kas negara cukup besar," ujar dia. Penilaian sama juga dilontarkan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nur Hidayat Sardini. Kata dia, debat calon presiden tadi malam lebih atraktif dari sebelumnya. "Sedikit lebih menjawab beberapa catatan kritis pada dua debat (capres-cawapres) sebelumnya," kata dia usai acara debat tersebut.
Menurut dia, peran moderator, Aviliani, juga mampu membuat suasana lebih hidup. Disinggung mengenai penampilan para calon presiden, Nur Hidayat mengaku memuji ketiganya. "JK sebagai pemecah kebekuan, SBY yang memberikan pandangan signifikan, dan Megawati yang memaparkan hal-hal penting," ujar dia.
Meski demikian, pelaksanaan debat belum ideal seperti di Amerika Serikat (AS) yang dapat mewakili kepentingan masyarakat. "Tapi sudah ada perbedaan antarcapres, meski belum ada yang khas," tandasnya.
Saling Sindir
Debat capres bertema kemiskinan dan pengangguran, semalam, diwarnai aksi saling sindir antara Jusuf Kalla (JK) – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, JK menyindir iklan kampanye SBY yang meminjam jingle iklan Indomie.
Sindiran Kalla disampaikan saat moderator Aviliani menanyakan kepada para capres soal upaya mereka menekan inflasi. Kalla yang mendapat kesempatan kedua setelah SBY menegaskan upaya menekan inflasi dapat dilakukan dengan mengurangi impor.
"Jingle Indomie yang dipakai Bapak itu memicu orang makan Indomie. Padahal bahan baku Indomie dari gandum impor. Ini bisa bikin inflasi tinggi," kata JK. Mendengar sindiran Kalla, SBY hanya mesam-mesem. Namun, dalam kesempatan lain SBY membalas JK.
Kata SBY, jika produk Indomie tersebut tidak secara 100 persen dibuat dari bahan gandum, namun juga ada bahan lainnya. "Ada juga jagung di dalamnya," sahut SBY. Saling sindir juga terjadi antara JK dan Mega. Ini menyangkut kontrak proyek gas Tangguh yang dijual murah kepada investor China di era Megawati.
Saat itu, JK menyampaikan kritik kepada Megawati yang menjual gas Tangguh dengan murah. Menjawab kritikan ini, Mega pun mendapat kesempatan untuk menjawab pendek, “JK kan pernah bekerja sama saya.” Saat Kalla bertanya, "Tapi, kerja saya bagus kan bu?" Megawati kembali menjawab dengan wajah agak cemberut, "Tidak dong." Sontak, JK dan SBY pun tertawa. Begitupun dengan hadirin pun ikut tertawa.
JK Bintang
Ketua Kadin MS Hidayat menilai bintang malam itu memang jusuf Kalla. Menurutnya, Kalla tampil menghibur. "Kalau dari segi showmanship, nomor tiga yang terbaik," katanya. Cuma dari sisi subtansi, Ia menilai SBY lebih unggul. Ketika diminta untuk memberikan skor dalam skala 1 sampai 10, Hidayat memberikan nilai 6 untuk Mega, 8 untuk SBY dan 7 untuk Kalla. ***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar